Hijrahku
Aku terbaring lelah diranjangku. Sore
ini hujan turun sangat deras, melihat kejendela aku mengingat kejadian kejadian
yang pernah ku alami. Jenuh pikiranku. Aku butuh pencerahan. Mengingat kisah
hidupku, sepertinya diriku belum sempurna untuk membahagiakan kedua orangtuaku.
Aku Nadilla Resty . Aku pernah berjanji dulu dengan ayah dan bunda , kalau aku
ingin menggunakan hijab ketika SMP, sekarang aku telah masuk SMP, dan menduduki
bangku kelas tujuh. Aku bersekolah di SMP Negri favorite dikotaku.
Hari ini aku
menggunakan hijab, hanya menggunakan hijab tanpa tau apa hukumnya, karena aku
telah berjanji aku akan memakai hijab. Aku melihat teman temanku, banyak yang
melepas hijabnya. Aku tergoda juga untuk melepasnya, tetapi kembali teringat
lagi, amanah dan janji yang pernah aku renggutkan kepada orangtuaku, terlebih ayah,
yang kini telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
***
Saat jam olahraga, kami semua mengganti baju olahraga
kekamar mandi sekolah. Setelah itu kami dikumpulkan dilapanagn untuk melakukan
pemanasan untuk memulai olahraga. Aku hanya memainkan basket yang kupegang ini.
Untuk hari ini aku tidak ada gairah hidup. Akhirnya aku izin kekelas bersama
gengku, aku hanya memainkan ponselku. Aku melihat teman teman lain sedang
kepanasan dan membuka hijbanya, aku pun mengikuti mereka untuk melepas hijabku.
Dengan perkembangan zaman sekarang semua hal makin canggih dan termasuk salah
satu nya ponselku. Bel istirahat pun berbunyi, aku beranjak keluar kelas
bersama gengku.
“ Dill, kekantin yuk.”
Ajak Adel
“ Yuk.” Jawabku
“ kamu kenapa sih, hari
ini kayaknya bete banget, kenapa, cerita dong.” Tanya Carla
“nggak apa apa kok car,
aku cuma lagi capek aja.” Jawabku
Sepulang sekolah aku
dan gengku, pergi main ke tempat Amel, aku memang sering main tempat Amel,
karena aku bosen dirumah, terasa tidak bebas. Aku pun izin ke bunda untuk pergi
kerumah Amel dengan alasan aku ada kerja kelompok.
Aku mengambil ponselku
dari saku baju ku, dan aku menelepon bunda.
“ halo bun, adek ke
tempat Amel ya bun, soalnya adek ada kerja kelompok.” Jelasku ke bunda, aku
sering kali berbohong agar aku boleh berpergian dengan teman temanku.
“iya dek, tapi
pulangnya jangan sore sore ya, kan kamu mau ngaji. “ kata bunda
“ iyaa bun, nanti adek
pulang abis itu pergi ngaji kok.” Kataku
Akhir nya aku mendapat
izin bunda pergi kerumah Amel. Kami
berlima langsung bergegas kerumah Amel, belum samapai kami dirumah Amel,
ditengah jalan kami bertemu dengan seorang laki laki yang tak asing lagi
bagiku, yaitu Nando, Rico, Arief, Ghean,Dema. Yaa itu CS geng aku. Nama
geng mereka adalah DRANG, awalnya DRAG semenjak
Nando masuk, langsung di ubah menjadi DRANG.
Aku sapa Nando di
tengah jalan.
“Woi Ndo, mau ikut main
nggak bareng kita orang” ajakku.
“ Mau kemana? Boleh
lah..” seru Nando
“ ketempat amel, yaa jalan
jalan lah. “ jawabku
“ ya udah , ayok sih.”
Jawab Nando
Kami pergi kerumah Amel
dengan mengendarai motor. Aku biasa bermain dengan lawan jenis, hampir semua
lawan jenis dikelasku sering bermain bersamaku, entah itu hanya berbincang
biasa atau apalah. Nando adalah orang yang tengah jatuh hati kepadaku. Aku
tidak berkutik dari itu. Aku tidak menyukai nya. jadi kami semua bersahabat.
***
Hari semakin senja, aku teringat bunda menyuruhku pulang
tidak terlalu sore, tapi ini sudah sore, haduh bagaimana ini.? Aku segera
bergegas dari tempat tongkronganku, aku meminta gengku untuk mengantarkan aku
pulang, tetapi Nando dan Rico pun mengikuti kami. Aku tidak menyuruh mereka
mengantarkanku kedepan rumahku, karena aku takut bunda mengetahuiku aku pergi
bermain, dan bergoncengan dengan temanku.
“assalamualaikum Bun.” Salamku masuk rumah
“waalaikumsalam” jawab
bunda dengan sikap dingin
“bunda, maaf ya aku
pulang agak sore, tadi soalnya masih ada tugas lagi.” Pintaku
Bunda hanya terdiam,
aku tau bunda kecewa dengan janjiku. Sudahlah aku pulang terlalu sore, tidak
pergi mengaji pula. Aku bergegas masuk kekamarku.
Aku sering melakukan itu, pergi main tanpa pamit ataupun
berbohong. Mungkin bunda telah kesal melihatku selalu melakukan hal itu. Dan
satu hal yang tidak diketahui bunda, aku sudah pacaran dengan Nando. Iyaa,
sudah beberapa bulan terakhir ini, aku dan Nando menjalin hubungan pacaran
dengan nya. Dan ini salah satu hal yang paling ditakuti oleh bunda. Akhirnya
bunda memutuskan untuk berbicara dengan om ku yang berada di Batam. Keluargaku
selalu mengomunikasikan masalah keuangan atau pendidikan dengan om ku ini.
Bunda menelepon om Tez, dan ternyata kebetulan om Tez sedang berada di Lampung,
bunda langsung membicarkan tentang keseharianku. Ternyata om Tez menyuruhku
ketempat tanteku besok sepulang sekolah. Aku takut apa yang ingin dikatakan om
Tez. Dan aku baru ingat, besok aku ada janjian dengan gengku dan geng Nando,
dan sangat kebetulan kami akan mengumpul dirumah Nabila, salah satu anggota
gengku juga. Sebenarnya ini bukan geng tapi hanya kumpulan sahabat yang famous di sekolahku. Dan rumah Nabila
itu kebetulan sangat dekat dengan rumah tanteku. Tapi aku tidak ingin kesana
sendirian, aku ingin bersama kakakku. Saat pulang sekolah, aku kembali pergi
main ketempat Nabila dan aku sudah izin ke bunda. Aku di sms bunda, katanya aku
disuruh pergi ketempat tanteku. Dan akhirnya aku pergi sebentar saja ke tempat
tanteku, dan aku meminta antarkan oleh Nabila. Aku hanya bertemu sebentar
dengan om Tez dan tante Yuni. Setelah aku berpamitan aku langsung kembali
ketempat Nabila. Jantungku berdegup kencang saat bertemu dengan om Tez, karena
aku takut ditanyakan hal hal yang tidak aku inginkan. Bergegas aku kembali
ketempat Nabila.Tak lama kemudian bunda sms
ku, aku disuruh pulang. Dan aku memutuskan langsung untuk pulang kerumah,
dari pada bunda kembali memarahiku.
“Eh aku pulang ya,
lagian udah sore juga, nanti bunda marah lagi.” Kataku kepada mereka semua.
“Iya udah, mau aku
anterin nggak dil?, lagian tadi juga bunda kamu nelfonin kamu terus, aku nggak
berani ngangkat nya, tadikan handphone kamu
ketinggalan. ” kata Amel.
“Oke lah, jadi Amel aja
yang nganterin aku.”kataku
“Sama aku juga kok
Dill”timpal Nando
Tanpa menunggu lama
lama aku, Amel,Carla,Nando,Riko, dan Adel mengantarkanku pulang. Selama
perjalanan aku hanya diam saja, sampai sampai Nando sangat kesal ketika dia
bertanya kepadaku, lalu tidak ada respon dariku. Akhirnya aku sampai didepan
masjid yang biasanya mereka mengantarkanku pulang. Sepertinya Nando marah
denganku, dan kali itu kami kembali bertengkar. Aku sudah bosan mendengar
perkataan Nando jika berantem. Aku mulai bosan dengan nya. aku berjalan menuju
rumahku. Setelah sampai rumah, aku disuruh menemani kakakku pergi ketempat
tanteku.
“ dek, temenin kakak
ketempat ibu yok”ajak kakakku
“adek udah kesana
tadi”jawabku
“ya udah sih , nggak
apa apa.” Kata kakakku
“ iya udah lah,
yok..eeh bentar adek solat dulu” kataku
10 menit kemudian
“udah , yok kak.”
Ajakku
Aku langsung naik
kedalam mobilku, aku sebenernya malas kesana, pasti masalah sekolahku dibahas
lagi, dan masalah dengan Nando pun hampir selesai. Sesampai aku di tempat tante
ku, Om Tez ternyata menanyakan tentang sekolahku, firasat ku benar. Om Tez dan
tante Yuni menanyakan apakah aku ingin pindah sekolah.
“Dill, kamu mau pindah
sekolah nggak?’’ tanya Om Tez
“nggak lah om, enak
disekolah yang lama” tolak ku
“Tapi kata bunda, kamu
suka main main terus”tanya om Tez
Kakakku menimpali
pembicaraanku dengan om Tez” iya Om, dia ini sering main, pindahin aja kepondok
om, biar nggak main terus”cetus kakakku
“ iya juga ya, Dill
kamu mau masuk pondok nggak.” Kata om Tez
Deeeg. Seketika
jantungku berdebar kencang. Aku sangat tidak ingin masuk kepondok. Aku sudah
membayangkan bagaimana pondok itu. Aku ingin menolaknya. Air mataku hampir
mengalir keluar dari tempat persembunyiannya. Aku langsung mengalihkan wajahku,
dan pertanyaan itu belum aku jawab. Aku teringat teman temanku, bagaimana nanti
jika aku harus meninggalkan mereka. Dan, Bunda. Bagaimana aku jika tidak
bersama bunda. Air mataku terus memompa ingin keluar dari pelupuk mataku.
Seketika langsung aku usap air mataku, agar aku tidak ketahuan menangis.
Batinku sangat tidak ingin aku masuk pondok pesantren, tetapi aku tidak enak
meolaknya. Setelah sudah berdiam agak lama, aku pun berkata kepada om Tez
“ Ya udah om, nggak papa, Dilla mau masuk
pesantren”jawabku dengan senyum kecut
“Ya udah, kamu tentuin
aja pondok disini yang bagus apa. Nanti kalau udah ketemu konfirmasi ke om
ya.”tawar om Tez
“kata nya ada pondok
pesantren yang bagus loh disini, katanya baru dibuka.” Kata Kak Arya.
Aku hanya mendengarkan
pembicaraan para saudar saudaraku. Aku hanya menerima jadi saja, jika aku
memang dipindahkan ya.. aku harus menerimanya.
Sesampai aku dirumah
aku menangis tersedu sedu didalam kamarku, aku memberi tahu teman temanku,
tetapi mereka tidak ada yang percaya, begitu juga dengan Nando, dia sama sekali
tidak percaya. Aku terus mendekap dalam dekapan selimut hangatku. Dan seketika aku
langsung tertidur.
***
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah dengan mata yang
membengkak dan sama sekali tidak semangat untuk bersekolah. Teman temanku pada
menanyakan keadaanku, dan mengapa mataku bisa membengkak seperti disengat
lebah. Aku menyeritakan panjang lebar, apa yang terjadi pada diriku.
“ Haaah.. kamu beneran
mau di pondokin dil?” tanya Adel yang terkejut.
Aku hanya mengangguk
pelan, mereka sangat memohon agar aku tidak pindah, tapi ada yang percaya aku
tidak akan pindah.
Setelah beberapa minggu
aku mendapatkan kabar dari Bunda, bahwa aku akan benar benr dipindahkan, karena
aku sudah di daftarkan kesana. Mendengar kabar itu, aku langsung lemas seakan
akan aku tidak berdaya lagi. Aku dan teman temanku, mencari dimana pondok itu
berada. Aku tau dimana alamatnya, aku dan teman temanku berangkat mencari
alamat itu. Aku dan teman temanku menemukan alamatnya, saat aku tiba di sana,
aku sangat terkesima melihat bangunan nya yang mewah, besar, bagus lagi. Sampai
sampai Riko menyangka itu istana. Tapi aku belum bisa membayangkan bagaimana
jika aku disekolahkan di sana.
Sabtu pagi, aku pergi kepondok itu untuk mengikuti test,
aku sangat berharap, aku tidak diterima di sana. Tapi Halasil, aku diterima di
sana. Teman temanku tau itu, mereka menangis berjamaah bersamaku. Dan beberapa
hari kemudian bunda memutuskan, aku untuk berhenti sekolah di SMP ku ini. Aku
hanya mengikuti perkataan bunda saja. Dan aku memutuskan hubunganku dengan
Nando.
***
Selasa,
28 juli 2015 aku memulai hidup baruku masuk ke Pondok pesantren. Aku terpaku
pada pakaian yang dikenakan para ustadzahnya. Batinku berkata “apakah aku akan seperti itu nantinya”.
Hari pertama di pondok, aku kurang betah di sini. Tetapi lama kelamaan, aku
mulai mendapatkan suatu keberkahan dari Allah SWT. Sepertinya aku mulai nyaman
di pondok ini. Dan aku mendapatkan sahabat baru nama nya Salsabila Qutratu Ain.
Dia sangat baik denganku, kemana mana kami selalu bersama. Dia selalu bersabar
menghadapi sikapku yang seperti ini, aku yang dulu nya anak luaran dan dia
memang lah dididik oleh kedua orangtuanya dengan segala hal yang baik. Aku
sudah menganggap dia sebagai adikku sendiri. Tapi banyak teman teman Salsa yang
tidak suka aku bermain dengannya. Aku merasakan banyak sekali masalah di sini.
Terkadang terlintas dipikiranku, aku suka tidak betah di sini. Tapi ada Salsa
yang menguatkan imanku, dan dia menyuruhku untuk berhijrah, menjadi wanita yang
sholehah. Aku pun mulai merubah sikapku, yang tadinya tidak karuan menjadi
lebih santun, pendiam. Yang tadi nya pakainnya tidak syar’i sekarang aku mulai
menutup auratku. Salsa mengajarkan aku untuk berhijrah di jalan allah dengan
cara yang benar dengan sesuai al-qur’an
dan sunnah nya.
Selang
beberapa bulan, aku sudah berubah menjadi sholihatunnisa(
wanita sholehah ) dan orangtuaku tidak meyangka aku akan berubah seperti ini,
keluargaku merasa senang dan bangga kepadaku. Bunda pernah berkata kepadaku
bahwasanya aku adalah harapan bagi orangtuaku dan seluruh keluargaku. Aku akan
menjadi anak yang sholehah, dicintai Allah dan Rasul-Nya. Dan menjadi bintang
penerang bagi keluargaku. Keluargaku sama sekali tidak menyesali perubahanku
ini. Dan sebagai orangtua, pasti nya bangga melihat anaknya menjadi jauh lebih
baik dari sebelumnya. Dan aku berterimakasih kepada bunda dan seluruh
keluargaku, terimakasih telah mendidikku, dan menyekolahkanku di pondok
pesantren. Dan alhamdulillah semua usaha kalian terbuahi oleh hasil yang manis
dalam diriku. Aku dulu sangat menyesal masuk ke pondok pesantren, dulu aku
selalu beranggapan pondok pesantren itu ialah penjara, tetapi penjara yang
suci, bukan penjara yang diisi oleh orang orang yang tidak beriman kepada
Allah, melainkan orang orang yang selalu beriman dan bertaqwa kepada Nya.
Setelah berbulan bulan aku disini, aku menyadari bahwasannya keluargaku sangat
sayang kepadaku, mereka tidak ingin aku menjadi wanita yang bebas dengan
pergaulan diluar sana, tetapi yang mereka inginkan adalah menjadi wanita
sholehah yang bisa membawa kedua orangtuanya masuk ke dalam surga-Nya, dan mengajak
seluruh keluarganya untuk lebih memahami ilmu agama, yang sesuai dengan al-qur’an dan sunnah. Aku sangat senang
bisa dekat dengan Allah, dan jalanku selalu dimudahkan oleh Allah. Mungkin ini
takdir Allah untuk meluruskan niat hidupku.
Tengah
malam, pukul 03.00 WIB, aku terbangun dari tidurku. Dan aku langsung mengambil
air wudhu dan menjalankan sholat tahajud. Aku berdoa saat setelah selelsai
sholat, dalam doa ku “ Ya Allah, terimakasih Engkau telah meluruskan niat
hidupku, untuk menggunakan jilbab dan menjadi wanita sholehah, dan semoga aku
tetap istiqomah di jalan Mu. Aku titip pesan ke ayah, tolong sampaikan ke ayah,
aku sudah berubah dan tidak seperti dulu lagi, aku telah menjalankan janjiku
kepada ayah untuk berjilbab, sekarang
aku telah berjilbab sesuai syariat islam, mungkin ayah akan senang jika ayah
melihatku. Yah, Dilla kangen banget sama ayah, semoga Bunda, Ayah, Kakak, Uni,
dan Dila bisa dikumpulkan di surga Allah. Dilla sayang ayah.” Air mataku
menetes membasihi pipiku.
***
3
tahun sudah aku menjalankan hidupku di pondok pesantren yang menyimpan banyak
kenangan. Hari ini pengumuman kelulusan. Alhamdulillah aku lulus, dan aku akan
melanjutkan kependidikan selanjutnya, dengan tetap bersekolah di pondok
pesantren.
Pesanku “ semoga kita yang bertaqwa dan beriman
kepadaNya selalu istiqomah menjalani hidup sesuai al-qur’an dan sunnah. ”
0 komentar:
Posting Komentar