Senin, 24 Oktober 2016

Hijrahku

Hijrahku

          Aku terbaring lelah diranjangku. Sore ini hujan turun sangat deras, melihat kejendela aku mengingat kejadian kejadian yang pernah ku alami. Jenuh pikiranku. Aku butuh pencerahan. Mengingat kisah hidupku, sepertinya diriku belum sempurna untuk membahagiakan kedua orangtuaku. Aku Nadilla Resty . Aku pernah berjanji dulu dengan ayah dan bunda , kalau aku ingin menggunakan hijab ketika SMP, sekarang aku telah masuk SMP, dan menduduki bangku kelas tujuh. Aku bersekolah di SMP Negri favorite dikotaku.
Hari ini aku menggunakan hijab, hanya menggunakan hijab tanpa tau apa hukumnya, karena aku telah berjanji aku akan memakai hijab. Aku melihat teman temanku, banyak yang melepas hijabnya. Aku tergoda juga untuk melepasnya, tetapi kembali teringat lagi, amanah dan janji yang pernah aku renggutkan kepada orangtuaku, terlebih ayah, yang kini telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

***
            Saat jam olahraga, kami semua mengganti baju olahraga kekamar mandi sekolah. Setelah itu kami dikumpulkan dilapanagn untuk melakukan pemanasan untuk memulai olahraga. Aku hanya memainkan basket yang kupegang ini. Untuk hari ini aku tidak ada gairah hidup. Akhirnya aku izin kekelas bersama gengku, aku hanya memainkan ponselku. Aku melihat teman teman lain sedang kepanasan dan membuka hijbanya, aku pun mengikuti mereka untuk melepas hijabku. Dengan perkembangan zaman sekarang semua hal makin canggih dan termasuk salah satu nya ponselku. Bel istirahat pun berbunyi, aku beranjak keluar kelas bersama gengku.
“ Dill, kekantin yuk.” Ajak Adel
“ Yuk.” Jawabku
“ kamu kenapa sih, hari ini kayaknya bete banget, kenapa, cerita dong.” Tanya Carla
“nggak apa apa kok car, aku cuma lagi capek aja.” Jawabku
Sepulang sekolah aku dan gengku, pergi main ke tempat Amel, aku memang sering main tempat Amel, karena aku bosen dirumah, terasa tidak bebas. Aku pun izin ke bunda untuk pergi kerumah Amel dengan alasan aku ada kerja kelompok.
Aku mengambil ponselku dari saku baju ku, dan aku menelepon bunda.
“ halo bun, adek ke tempat Amel ya bun, soalnya adek ada kerja kelompok.” Jelasku ke bunda, aku sering kali berbohong agar aku boleh berpergian dengan teman temanku.
“iya dek, tapi pulangnya jangan sore sore ya, kan kamu mau ngaji. “ kata bunda
“ iyaa bun, nanti adek pulang abis itu pergi ngaji kok.” Kataku
Akhir nya aku mendapat izin  bunda pergi kerumah Amel. Kami berlima langsung bergegas kerumah Amel, belum samapai kami dirumah Amel, ditengah jalan kami bertemu dengan seorang laki laki yang tak asing lagi bagiku, yaitu Nando, Rico, Arief, Ghean,Dema. Yaa itu CS geng aku. Nama geng  mereka adalah DRANG, awalnya DRAG semenjak Nando masuk, langsung di ubah menjadi DRANG.
Aku sapa Nando di tengah jalan.
“Woi Ndo, mau ikut main nggak bareng kita orang” ajakku.
“ Mau kemana? Boleh lah..” seru Nando
“ ketempat amel, yaa jalan jalan lah. “ jawabku
“ ya udah , ayok sih.” Jawab Nando
Kami pergi kerumah Amel dengan mengendarai motor. Aku biasa bermain dengan lawan jenis, hampir semua lawan jenis dikelasku sering bermain bersamaku, entah itu hanya berbincang biasa atau apalah. Nando adalah orang yang tengah jatuh hati kepadaku. Aku tidak berkutik dari itu. Aku tidak menyukai nya. jadi kami semua bersahabat.
***
            Hari semakin senja, aku teringat bunda menyuruhku pulang tidak terlalu sore, tapi ini sudah sore, haduh bagaimana ini.? Aku segera bergegas dari tempat tongkronganku, aku meminta gengku untuk mengantarkan aku pulang, tetapi Nando dan Rico pun mengikuti kami. Aku tidak menyuruh mereka mengantarkanku kedepan rumahku, karena aku takut bunda mengetahuiku aku pergi bermain, dan bergoncengan dengan temanku.
            “assalamualaikum Bun.” Salamku masuk rumah
“waalaikumsalam” jawab bunda dengan sikap dingin
“bunda, maaf ya aku pulang agak sore, tadi soalnya masih ada tugas lagi.” Pintaku
Bunda hanya terdiam, aku tau bunda kecewa dengan janjiku. Sudahlah aku pulang terlalu sore, tidak pergi mengaji pula. Aku bergegas masuk kekamarku.
            Aku sering melakukan itu, pergi main tanpa pamit ataupun berbohong. Mungkin bunda telah kesal melihatku selalu melakukan hal itu. Dan satu hal yang tidak diketahui bunda, aku sudah pacaran dengan Nando. Iyaa, sudah beberapa bulan terakhir ini, aku dan Nando menjalin hubungan pacaran dengan nya. Dan ini salah satu hal yang paling ditakuti oleh bunda. Akhirnya bunda memutuskan untuk berbicara dengan om ku yang berada di Batam. Keluargaku selalu mengomunikasikan masalah keuangan atau pendidikan dengan om ku ini. Bunda menelepon om Tez, dan ternyata kebetulan om Tez sedang berada di Lampung, bunda langsung membicarkan tentang keseharianku. Ternyata om Tez menyuruhku ketempat tanteku besok sepulang sekolah. Aku takut apa yang ingin dikatakan om Tez. Dan aku baru ingat, besok aku ada janjian dengan gengku dan geng Nando, dan sangat kebetulan kami akan mengumpul dirumah Nabila, salah satu anggota gengku juga. Sebenarnya ini bukan geng tapi hanya kumpulan sahabat yang famous di sekolahku. Dan rumah Nabila itu kebetulan sangat dekat dengan rumah tanteku. Tapi aku tidak ingin kesana sendirian, aku ingin bersama kakakku. Saat pulang sekolah, aku kembali pergi main ketempat Nabila dan aku sudah izin ke bunda. Aku di sms bunda, katanya aku disuruh pergi ketempat tanteku. Dan akhirnya aku pergi sebentar saja ke tempat tanteku, dan aku meminta antarkan oleh Nabila. Aku hanya bertemu sebentar dengan om Tez dan tante Yuni. Setelah aku berpamitan aku langsung kembali ketempat Nabila. Jantungku berdegup kencang saat bertemu dengan om Tez, karena aku takut ditanyakan hal hal yang tidak aku inginkan. Bergegas aku kembali ketempat Nabila.Tak lama kemudian bunda sms ku, aku disuruh pulang. Dan aku memutuskan langsung untuk pulang kerumah, dari pada bunda kembali memarahiku.
“Eh aku pulang ya, lagian udah sore juga, nanti bunda marah lagi.” Kataku kepada mereka semua.
“Iya udah, mau aku anterin nggak dil?, lagian tadi juga bunda kamu nelfonin kamu terus, aku nggak berani ngangkat nya, tadikan handphone kamu ketinggalan. ” kata Amel.
“Oke lah, jadi Amel aja yang nganterin aku.”kataku
“Sama aku juga kok Dill”timpal Nando
Tanpa menunggu lama lama aku, Amel,Carla,Nando,Riko, dan Adel mengantarkanku pulang. Selama perjalanan aku hanya diam saja, sampai sampai Nando sangat kesal ketika dia bertanya kepadaku, lalu tidak ada respon dariku. Akhirnya aku sampai didepan masjid yang biasanya mereka mengantarkanku pulang. Sepertinya Nando marah denganku, dan kali itu kami kembali bertengkar. Aku sudah bosan mendengar perkataan Nando jika berantem. Aku mulai bosan dengan nya. aku berjalan menuju rumahku. Setelah sampai rumah, aku disuruh menemani kakakku pergi ketempat tanteku.
“ dek, temenin kakak ketempat ibu yok”ajak kakakku
“adek udah kesana tadi”jawabku
“ya udah sih , nggak apa apa.” Kata kakakku
“ iya udah lah, yok..eeh bentar adek solat dulu” kataku
10 menit kemudian
“udah , yok kak.” Ajakku
Aku langsung naik kedalam mobilku, aku sebenernya malas kesana, pasti masalah sekolahku dibahas lagi, dan masalah dengan Nando pun hampir selesai. Sesampai aku di tempat tante ku, Om Tez ternyata menanyakan tentang sekolahku, firasat ku benar. Om Tez dan tante Yuni menanyakan apakah aku ingin pindah sekolah.
“Dill, kamu mau pindah sekolah nggak?’’ tanya Om Tez
“nggak lah om, enak disekolah yang lama” tolak ku
“Tapi kata bunda, kamu suka main main terus”tanya om Tez
Kakakku menimpali pembicaraanku dengan om Tez” iya Om, dia ini sering main, pindahin aja kepondok om, biar nggak main terus”cetus kakakku
“ iya juga ya, Dill kamu mau masuk pondok nggak.” Kata om Tez
Deeeg. Seketika jantungku berdebar kencang. Aku sangat tidak ingin masuk kepondok. Aku sudah membayangkan bagaimana pondok itu. Aku ingin menolaknya. Air mataku hampir mengalir keluar dari tempat persembunyiannya. Aku langsung mengalihkan wajahku, dan pertanyaan itu belum aku jawab. Aku teringat teman temanku, bagaimana nanti jika aku harus meninggalkan mereka. Dan, Bunda. Bagaimana aku jika tidak bersama bunda. Air mataku terus memompa ingin keluar dari pelupuk mataku. Seketika langsung aku usap air mataku, agar aku tidak ketahuan menangis. Batinku sangat tidak ingin aku masuk pondok pesantren, tetapi aku tidak enak meolaknya. Setelah sudah berdiam agak lama, aku pun berkata kepada om Tez
 “ Ya udah om, nggak papa, Dilla mau masuk pesantren”jawabku dengan senyum kecut
“Ya udah, kamu tentuin aja pondok disini yang bagus apa. Nanti kalau udah ketemu konfirmasi ke om ya.”tawar om Tez
“kata nya ada pondok pesantren yang bagus loh disini, katanya baru dibuka.” Kata Kak Arya.
Aku hanya mendengarkan pembicaraan para saudar saudaraku. Aku hanya menerima jadi saja, jika aku memang dipindahkan ya.. aku harus menerimanya.
Sesampai aku dirumah aku menangis tersedu sedu didalam kamarku, aku memberi tahu teman temanku, tetapi mereka tidak ada yang percaya, begitu juga dengan Nando, dia sama sekali tidak percaya. Aku terus mendekap dalam dekapan selimut hangatku. Dan seketika aku langsung tertidur.
***

            Keesokan harinya, aku berangkat sekolah dengan mata yang membengkak dan sama sekali tidak semangat untuk bersekolah. Teman temanku pada menanyakan keadaanku, dan mengapa mataku bisa membengkak seperti disengat lebah. Aku menyeritakan panjang lebar, apa yang terjadi pada diriku.
“ Haaah.. kamu beneran mau di pondokin dil?” tanya Adel yang terkejut.
Aku hanya mengangguk pelan, mereka sangat memohon agar aku tidak pindah, tapi ada yang percaya aku tidak akan pindah.
Setelah beberapa minggu aku mendapatkan kabar dari Bunda, bahwa aku akan benar benr dipindahkan, karena aku sudah di daftarkan kesana. Mendengar kabar itu, aku langsung lemas seakan akan aku tidak berdaya lagi. Aku dan teman temanku, mencari dimana pondok itu berada. Aku tau dimana alamatnya, aku dan teman temanku berangkat mencari alamat itu. Aku dan teman temanku menemukan alamatnya, saat aku tiba di sana, aku sangat terkesima melihat bangunan nya yang mewah, besar, bagus lagi. Sampai sampai Riko menyangka itu istana. Tapi aku belum bisa membayangkan bagaimana jika aku disekolahkan di sana.
            Sabtu pagi, aku pergi kepondok itu untuk mengikuti test, aku sangat berharap, aku tidak diterima di sana. Tapi Halasil, aku diterima di sana. Teman temanku tau itu, mereka menangis berjamaah bersamaku. Dan beberapa hari kemudian bunda memutuskan, aku untuk berhenti sekolah di SMP ku ini. Aku hanya mengikuti perkataan bunda saja. Dan aku memutuskan hubunganku dengan Nando.

***
            Selasa, 28 juli 2015 aku memulai hidup baruku masuk ke Pondok pesantren. Aku terpaku pada pakaian yang dikenakan para ustadzahnya. Batinku berkata “apakah aku akan seperti itu nantinya”. Hari pertama di pondok, aku kurang betah di sini. Tetapi lama kelamaan, aku mulai mendapatkan suatu keberkahan dari Allah SWT. Sepertinya aku mulai nyaman di pondok ini. Dan aku mendapatkan sahabat baru nama nya Salsabila Qutratu Ain. Dia sangat baik denganku, kemana mana kami selalu bersama. Dia selalu bersabar menghadapi sikapku yang seperti ini, aku yang dulu nya anak luaran dan dia memang lah dididik oleh kedua orangtuanya dengan segala hal yang baik. Aku sudah menganggap dia sebagai adikku sendiri. Tapi banyak teman teman Salsa yang tidak suka aku bermain dengannya. Aku merasakan banyak sekali masalah di sini. Terkadang terlintas dipikiranku, aku suka tidak betah di sini. Tapi ada Salsa yang menguatkan imanku, dan dia menyuruhku untuk berhijrah, menjadi wanita yang sholehah. Aku pun mulai merubah sikapku, yang tadinya tidak karuan menjadi lebih santun, pendiam. Yang tadi nya pakainnya tidak syar’i sekarang aku mulai menutup auratku. Salsa mengajarkan aku untuk berhijrah di jalan allah dengan cara yang benar dengan sesuai al-qur’an dan sunnah nya.
            Selang beberapa bulan, aku sudah berubah menjadi sholihatunnisa( wanita sholehah ) dan orangtuaku tidak meyangka aku akan berubah seperti ini, keluargaku merasa senang dan bangga kepadaku. Bunda pernah berkata kepadaku bahwasanya aku adalah harapan bagi orangtuaku dan seluruh keluargaku. Aku akan menjadi anak yang sholehah, dicintai Allah dan Rasul-Nya. Dan menjadi bintang penerang bagi keluargaku. Keluargaku sama sekali tidak menyesali perubahanku ini. Dan sebagai orangtua, pasti nya bangga melihat anaknya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan aku berterimakasih kepada bunda dan seluruh keluargaku, terimakasih telah mendidikku, dan menyekolahkanku di pondok pesantren. Dan alhamdulillah semua usaha kalian terbuahi oleh hasil yang manis dalam diriku. Aku dulu sangat menyesal masuk ke pondok pesantren, dulu aku selalu beranggapan pondok pesantren itu ialah penjara, tetapi penjara yang suci, bukan penjara yang diisi oleh orang orang yang tidak beriman kepada Allah, melainkan orang orang yang selalu beriman dan bertaqwa kepada Nya. Setelah berbulan bulan aku disini, aku menyadari bahwasannya keluargaku sangat sayang kepadaku, mereka tidak ingin aku menjadi wanita yang bebas dengan pergaulan diluar sana, tetapi yang mereka inginkan adalah menjadi wanita sholehah yang bisa membawa kedua orangtuanya masuk ke dalam surga-Nya, dan mengajak seluruh keluarganya untuk lebih memahami ilmu agama, yang sesuai dengan al-qur’an dan sunnah. Aku sangat senang bisa dekat dengan Allah, dan jalanku selalu dimudahkan oleh Allah. Mungkin ini takdir Allah untuk meluruskan niat hidupku.
            Tengah malam, pukul 03.00 WIB, aku terbangun dari tidurku. Dan aku langsung mengambil air wudhu dan menjalankan sholat tahajud. Aku berdoa saat setelah selelsai sholat, dalam doa ku “ Ya Allah, terimakasih Engkau telah meluruskan niat hidupku, untuk menggunakan jilbab dan menjadi wanita sholehah, dan semoga aku tetap istiqomah di jalan Mu. Aku titip pesan ke ayah, tolong sampaikan ke ayah, aku sudah berubah dan tidak seperti dulu lagi, aku telah menjalankan janjiku kepada ayah  untuk berjilbab, sekarang aku telah berjilbab sesuai syariat islam, mungkin ayah akan senang jika ayah melihatku. Yah, Dilla kangen banget sama ayah, semoga Bunda, Ayah, Kakak, Uni, dan Dila bisa dikumpulkan di surga Allah. Dilla sayang ayah.” Air mataku menetes membasihi pipiku.
***
            3 tahun sudah aku menjalankan hidupku di pondok pesantren yang menyimpan banyak kenangan. Hari ini pengumuman kelulusan. Alhamdulillah aku lulus, dan aku akan melanjutkan kependidikan selanjutnya, dengan tetap bersekolah di pondok pesantren.

Pesanku “ semoga kita yang bertaqwa dan beriman kepadaNya selalu istiqomah menjalani hidup sesuai al-qur’an dan sunnah. ”

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar